Hallo blog tersayang...sorry yah udah dari November sampe sekarang kurang lebih 9 bulan 10 hari (dah kayak lagi hamil) baru bisa dan mood untuk ngeliat blog ini lagi..
Salah satu alasannya adalah karena abis postingan terakhir itu gw baru merasakan dijadikan kambing hitam di kantor oleh dia-yang-namanya-tidak-etis-disebut (DYNTED) and the story goes..
"You either die a hero, or you live long enough to see yourself become the villain" - Harvey Dent
Motto diatas cocok banget diberikan ke DYNTED, beliau ini adalah orang yang gw respek pada awalnya tetapi lama-kelamaan berubah jadi supervillain.
Masih teringat jelas saat beliau ini menjadi mentor gw, dan pernah memarahi salah satu co-worker yang suka ngilang dari meja karena ngurusin usaha kulinernya sehingga akhirnya sang co-worker memilih berhenti kerja setelah 20thn berkarir dan menjadi wiraswasta sepenuhnya.
Alasan dimarahi menurut gw karena sebagai karyawan kita harus menjunjung tinggi profesionalitas di kantor karena how shitty your job is, you get paid for that (laen ceritanya kalau ente udah ga kuat ya monggo cari kerjaan baru dan resign dengan baik-baik, karena ente masuk kerja juga baik2 bukan?).
Tetapi si DYNTED ini dari orang yang disiplin waktu dan berani pasang badan untuk bawahan seiring waktu yang singkat, 6-7 bulan berubah menjadi salah satu orang paling brengsek di kantor..shocking!
Ceritanya sebagai berikut, warning..this is a very looonggg story..cocoknya dibaca jika untuk cerita pengantar tidur deh *seduh kopi dan setel lagu-lagu oldies 80an dulu*
Ditahun 2014 si TED ini setelah 2thn bekerja di kantor yang sama, beliau pindah ke kantor lain dan memberikan offering kepada gw untuk mengikuti jejaknya dengan consideration perusahaan multinasional, dsb (
ceritanya ada disini) yang gw terima karena pertama gw cocok sama beliau dan tentunya ingin perkembangan karir yang lebih baik.
Turn out, the new office doesn't as good as it told. Walau perusahaan yang sudah lama berdiri tetapi sistem ITnya salah satu yang paling terbelakang amburadul. TED kecewa berat, gw lebihhh kecewa berat lagi. Tapi life must go on, dan kita memang dihire untuk membenahi agar perusahaan bisa tetap berjalan dan beroperasi dengan lancar. Setahun kemudian, sistemnya jauh lebih baik dan gw cukup bisa merasa bangga sedikit karena walaupun minim support dari HO disingapore sana, gw tetep berhasil memperbaiki sistemnya walau belum solve karena konsultan pembuat aplikasinya kacrut abis.
Mungkin ini akan terdengar sangat rumit dan teknikal tetapi simpelnya adalah ada sebuah bug dalam aplikasinya dimana 100% salah sipembuatnya yaitu konsultan IT tersebut dimana data sales dari operational dan di Finance maupun bagian lain slightly different. Ini masalah disebabkan oleh tidak dibuatnya database relationship yang baik untuk penyimpanan datanya.
Solusinya adalah merombak ulang aplikasinya dan membenarkan database relationshipnya baru itu jadi solusi permanen. Tetapi hal ini tidak dimungkinkan karena si konsultan ngotot program dia sudah sempurna luar biasa sampai dinegara lain (sg and my) tidak ada yang komplain soal perbedaan angka ini. Tapi CFO mau ini dibenerin, yang buat ga mau benerin, trus gimana dong?
Akhirnya entah karena ingin terlihat prestasinya atau bagaimana, si TED awal tahun 2016 membuat project besar untuk menggunakan sebuah analytics program untuk membuat sebuah report yang maha canggih dari yang pernah ada dalam sejarah perusahaan ini. Keren kan? dan gw pun menjadi PICnya.
Saat project ini bergulir, gw dipanggil 4 mata dengan CFO yang meminta gw untuk tidak menjadikan project ini seperti project yang sudah-sudah (pernah ada project serupa dari Sg yang ujung-ujungnya tetep report sales antara finance dan operation berbeda dsb). Jadi saat memulai project ini yang gw titik beratkan adalah menyelesaikan sumber masalahnya baru berlanjut ke si analytics reporting ini karena menurut gw kalau sumber masalahnya ga kelar (angka sales GL dan operation sama) maka mau kayak mana canggihnya tuh program analytics ga bakal bisa menyelesaikan tujuan awalnya project ini.
Gw kumpulkan masing-masing perwakilan dari semua divisi dan kami mulai meeting teratur untuk mencari solusinya tanpa bantuan si konsultan (konsultan sudah jelas ga mau karena mereka ga merasa angka sales di GL dan Operation berbeda itu masalah, hellowwwww!)
Selang beberapa bulan, gw dan tim dah mulai desperate juga karena kita sudah mencoba mencari beberapa alternatif kepentok diaplikasi kembali, karena ya aplikasi adalah buatan si konsultan dan kita ga bisa ngapa-ngapain.
Saat pertengahan 2016, si TED sudah berubah menjadi villain, dimulai dengan dateng kerja suka-suka dia, suka ngabur, kalo makan siang dari jam setengah 12 sampe jam 2 siang dsb. Gw tetep berusaha ignore itu dan konsentrasi ke kerjaan yang segabruk tetapi karena kantor bentuknya open space, bisa dibilang semua orang sudah tahu lah kelakuannya.
Sampai kemudian TED ini minta gw buat PO analytics program tersebut senilai 300jt-an agar project itu tetap bisa terlihat progressnya kata TED. Tetapi saat itu gw jelaskan dengan rinci apa yang menjadi masalah dan seandainya kita tetep jalanin PO, tanggung jawabnya makin berat karena kantor sudah keluar uang yang segitu banyak tetapi tetep tujuan project tidak tercapai (Tujuan project : Same numbers in reporting for all division).
TED tetep bilang ga-pa-pa tetep aja proses, kalau sudah jadi dan nantinya ga sama, ya itu urusan nanti.
Saat itu dalam benak gw adalah, ini ga cuma soal jalanin perintah saja, tetapi lebih ke prinsip. Masa sih gw dah tahu ini ga bakal berhasil tetep gw hambur-hamburkan uang perusahaan 300jt lebih hanya untuk gagal?
Kebetulan awal oktober ada schedule upgrade aplikasi dari si konsultan IT tersebut jadi project gw pending karena gw sibuk juga mengurusi antisipasi agar dengan upgrade ini apakah sistem yang tadinya amburadul dan dah gw perbaiki setahun belakangan ini ga kembali menjadi amburadul.
Sampai akhir oktober si TED sudah menjadi villain beneran karena ternyata dia sudah kasih surat resign dan selama masa sampai hari terakhir dia sudah jadi pain in the ass. Dateng kerja suka-suka dia, saat kita semua sedang sibuk dan bahkan lembur gila-gilaan untuk project upgrade ini, dia malah ngilang untuk seminar katanya, dan setiap meeting malah ngajak ribut orang-orang lain yang sebenernya ga penting banget.
Kata-kata gw diawal yang bilang dia ini menjunjung tinggi profesionalisme bener-bener sudah tidak ada, selama 2 minggu sebelum terakhir bahkan sudah mau handover kerjaan dan email keatasan dll bahwa dia sudah tidak ikut campur lagi, trus ngapain 2 minggu terakhir? magabut? ckckckck...baru saalihat ada orang sebegini amat, lulusan S2 aussie tapi kok kelakuan kampungan dan ga profesional amat yah. Kita satu team dengannya cuma bisa diem dan mengeluh dalam hati saja dan berusaha melakukan yang kita bisa untuk project upgrade ini.
Kebetulan ada salah satu temen yang kebagian jatah handover kerjaan dia dan jadi caretaker selama penggantinya belum ada, kasihan sekali melihat dia yang kewalahan menghadapi TED yang makin menggila, ini bukan hiperbolik ya dibilang menggila, karena hanya orang gila yang teriak-teriak mengucapkan kata-kata kasar dan ga pendidikan dikantor kepada rekan-rekannya sendiri. We are on the same boat here. Walaupun ente kecewa berat sm kantor yang tidak sesuai ekspektasi tetapi bukan berarti lo berhak untuk memaki-maki rekan sekantor yang mungkin sekali juga kecewa dengan keadaan yang tidak sesuai ekspektasi masing-masing tetapi tetap berusaha profesional.
Puncaknya adalah saat giliran gw dipanggil untuk handover kerjaan dan latest status ke temen yang gw cerita diparagraf pertama, si TED ini tiba-tiba tantrum dan langsung mulai teriak-teriak sekenceng-kencengnya depan muka gw untuk sesuatu yang tidak jelas. Dia meledak karena merasa bahwa gw tetep ga pesen itu program analytics senilai 300juta lebih.
Saat itu yang muncul dibenak gw bukanlah emosi diteriak-teriakin sampai seluruh HO menghentikan aktivitasnya dan melihat gw meja dia tapi adalah rasa yakin bahwa yang gw lakukan untuk postpone pembelian itu adalah hal yang benar, karena jika waktu pertengahan tahun gw turutin pembelian itu dan ternyata dia resign kayak sekarang, tanggung jawabnya akan ada di gw, makanya dia ga mau buat PO sendiri tetapi minta gw yang bikin ckckck..
Saat dia sedang teriak-teriak, dan benak gw berpikir sampai gw juga ga jelas dia bilang apa lagi sampai tahu-tahu muncul kalimat terakhir, "Pokoknya saya ga mau tahu lagi soal ini". Setelah itu gw dengan tenang bilang, "Bapak ga usah khawatir, itu nanti urusannya antara saya dan dia *menunjuk ke temen gw yang dihandover*" dan gw pun balik ke meja.
Saat itu dilaptop sudah banyak ipmsg yang masuk bertanya what the hell is happening? dan yah gw cuekin dulu sampai suasana kembali tenang. Sungguh mengecewakan, seseorang yang sebelumnya gw respek ternyata kelakuannya sampai bisa berubah menjadi menjijikan. Begitu menjijikan sampai dihari terakhir dia bekerja masuk kantor gw lebih konsen ngurusin perpisahan temen gw (sama-sama resign dengan TED pada hari yang sama).
Sejak itu gw pun jadi males ngeblog eh hahahaha...ga dink..jadi lebih introspeksi diri saja dan berusaha tidak mengingat kembali kegilaan yang sudah si TED lakukan sampai muncul dikepala, harus bersyukur. Bersyukur karena diperlihatkan sama diatas contoh manusia paling tidak profesional yang pernah gw lihat, jangan menjadi seperti itu, bersyukur bahwa gw yang sekarang jadi orang yang lebih sabar dan wise jiahhh...karena jika itu terjadi pada gw yang 2-3thn yang lalu, saat dia teriak-teriak depan muka gw, mungkin tangan gw sudah mendarat dengan maknyuss ke mulut yang perlu disekolahkan itu hehehe...
Well, bulan depannya setelah dia resign, tiba-tiba gw dapet telp offering pekerjaan yang lebih baik dari yang saat itu, dunia kerja baru dan tentunya benefit yang lebih, tanpa apply job disitu. Tuhan bekerja dengan cara yang ajaib dan tentunya tidak bakal pernah kita prediksi.
Gw coba sajalah offer interview yang ditawarkan dan kebetulan hasilnya sangat baik, akhirnya gw pun resign dari kantor itu, dan tentunya dengan cara yang baik-baik dan profesional juga, gw bahkan ikut interview dan memilih kandidat calon pengganti gw, agar perusahaan ini tetep bisa beroperasi dengan baik dan lancar. Semua dokumentasi lengkap tidak ada satupun terlewatkan dan gw memulai proses handover selama seminggu lebih, kalau sehari takutnya kurang detil dan lengkap, sampai hari terakhir gw masih buat satu macro excel untuk mempermudah pekerjaan finance. Life is good, and we need to be good.
Gusti Allah mboten sare ternyata bener adanya, dan sekarang ini gw sudah 8 bulan lebih di kantor baru ini dan it turns out, one the best office I've ever been. Hoo-raah! Thank God! Amitofo!
Sampai bertemu dicerita selanjutnya ya..terima kasih sudah menyimak sampai sepanjang ini. Adios.