Sempet denger generasi jaman now dibilang generasi strawberry? alias ya lembek kayak strawberry, dipencet dikit sudah meringis nah ternyata belum lama ini ada baca berita yang membenarkan hal tersebut.
Hal ini terasa cukup membagongkan buat gw sih, dulu sih waktu gw masih muda, bisa kerja aja udah sukur sekarang malah yang muda-muda pada milih berhenti kerja daripada ga happy dikantor. Mungkin pengaruh orangtua jaman now juga yang rata-rata lebih mapan dan stabil keuangannya, sehingga anak-anak ini merasa, jika gw tidak kerja pun, gw ga mungkin kelaparan, masih ada yang kasih uang buat beli paket data, jalan-jalan dsb.
Beberapa minggu yang lalu, ex-teman kerja dikantor lama yang anaknya sudah 23thn juga sempet curhat bahwa anaknya ini memutuskan berhenti kerja 3 bulan di Agate, salah satu developer game Tanah Air yang menurut gw cukup berprestasi ya lalu kemudian memilih bekerja di Malaysia, lalu sekarang bilang mau balik kerja di Agate lagi, karena diperusahaan yang sekarang lebih ga enak. Gubrakk!
Lalu ada juga temen kerja gw yang cerita bahwa pacar anaknya yang juga memutuskan berhenti kerja dari salah satu Top law firm dengan alasan terlalu banyak lembur, sekarang masih menganggur. Kalau mau kerja di Law Firm musti siap lembur lah, ga pernah nonton film The Suits yang diperankan mbak Meghan Markle yah? Dipikir mungkin kerja di Law Firm itu kerjaannya kerja bentar abis itu joget-joget pakai handuk di beach club Bali kayak Hotman Paris. Pedahal.....Hotman juga ga berada diposisi sekarang instan, dia kerja gila-gilaan dari masih muda makanya baru bisa sukses seperti sekarang.
2 case tersebut mengkonfirmasi survey diatas itu bukan mengada-ngada tetapi memang beneran terjadi. Tetapi gw terus terang masih speechless dengan cara berpikirnya mereka. Agak worry juga dengan generasi penerus bangsa kalau isinya model anak-anak manja begini. No Pain No Gain guys! Itu semboyan gw dari masih muda, ga ada yang instan kayak nyeduh indomi.
Dilain pihak, banyak perusahaan (bukan startup) yang kondisi keuangannya sehat, bisnis tumbuh tetapi membabat para karyawannya yang sudah belasan bahkan puluhan tahun bekerja dengan istilah "Pensiun Dini" lalu berusaha menggantikannya dengan anak-anak Gen Z yang memang jarang betah-an di kantor lama-lama. Ibarat rumah, pondasi kuat dengan bahan kayu jati mau diganti dengan strawberry, gw ga tahu itu disebut langkah yang bagus / bodoh.
Memang karyawan yang sudah berumur, mereka tidak selincah dan sebugar anak-anak muda tetapi mereka ini yang sudah ikut menyukseskan perusahaan sampai sebesar ini. Mereka loyal dan apabila lo dah bekerja di sebuah perusahaan belasan-puluhan tahun, akan muncul sebuah rasa sayang dan cinta sama perusahaan lo, karena dari lo masih single, ga punya apa-apa, bisa kebeli motor pertama, mobil pertama, rumah pertama, menikah, dsb semua ya dari lo bekerja disini. Orang dengan pikiran normal pasti akan merasakan perasaan itu, kecuali memang oportunis.
Lalu gw pun pernah diundang mengikuti talkshow virtual yang diselenggarakan BCA dengan sebuah manager investasi. Yang notabene kita tahu BCA itu bank swasta terbesar dan most profitable bank di Indonesia. Saat itu yang menjadi narasumber adalah CFO sendiri, Ibu Vera Lim. Lalu membahas yang sempet viral di medsos yaitu betapa ramah dan serba bisanya para security/satpam BCA. Gw yakin kalian yang pernah ke bank BCA pernah melihat betapa ramah dan bisa membantu disaat kita kebingungan bahkan sampai dalam hal bertransaksi di mesin ATMnya.
Hal ini tidak lepas dari para manajemen yang menanamkan rasa kecintaan dan bangga akan kantor mereka. Para manajemen ini pun, semua orang lokal, dan memang proses jenjang karir ini bener-bener mereka fokus, jadi rata-rata para Kabag di BCA itu bener-bener mulai dari nol, dari teller/operasional sampai ke posisi puncak, bahkan CEOnya pun memang produk asli BCA. Prinsip ini yang menurut gw sesuatu yang menjadi koentji kenapa BCA dari dulu sampai sekarang masih kokoh di puncak.
Mereka selalu upgrade bukan hanya mesin ATMnya yang memang makin lama makin canggih (ganti kartu atm bisa di mesin sekarang, ga perlu ke CS) tetapi juga karyawannya, itu leher keatas diupgrade. Hal ini membuat karyawan itu benar-benar merasa cinta dan ya ga cuma loyal tetapi juga tetep bisa berkontribusi dengan baik ke perusahaan.
Gw inget si Bu Vera ini ada bercerita bahwa dia pernah mendengar guyonan para karyawannya bahwa karyawan BCA ini berdarah biru semua, biru BCA, selama perusahaan masih membutuhkan mereka, mereka akan selalu ada untuk BCA. Saat gw mendengar cerita itu, ini sampai merinding guys, sampai meneteskan air mata gw, pedahal gw nonton drakor aja ga sampe begini hahaha..
Mungkin hal ini 'kena' banget di gw karena gw nih dari 5thn lalu tuh terus terang udah lelah career hopping, udah bilang this will be my last company sampe gw pensiun umur 55thn. Tetapi ada serangkaian kejadian yang seakan mengkonter statement gw.
Pertama, dimulai dari chief of HR yang menjawab sebuah pertanyaan di E-townhall dipertengahan 2020.
"Pak, Apakah ada penghargaan terhadap masa kerja karyawan yang sudah > 5thn di sini?"
"Disini tidak ada apresiasi terhadap masa kerja tetapi apresiasi diberikan terhadap performa. Karyawan yang berperforma baik pasti akan mendapatkan apresiasi yang setimpal".
Dari sini gw udah mulai muncul pertanyaan, tetapi kan tidak bisa apple to apple membandingkan performa anak muda dengan karyawan yang sudah 20thn bekerja, pasti kalo begitu, yang muda akan lebih cepet dan lincah. Gw aja misal nih, suruh lawan diri gw 15thn yang lalu, gw lempar handuk, pasti diri gw yang lebih muda itu bakal menang, lo kasih dia apa aja, pasti dia bakal cepet bisa pelajari dan kuasai. Cuma karena gw takut dipecat gara-gara tanya begitu yaud gw bungkam saja, yang pasti jangan ngarep dikasih emas batangan udah kerja belasan & puluhan tahun.
Kedua, gw beranggapan rule of the gamenya adalah, Prestasi. Selama lo berprestasi dikerjaan lo, lo ga usah takut, ga bakal di PHK. Well, I was wrong. Agustus lalu, tanpa ada angin dan hujan, temen gw, yang notabene berprestasi (dia mendapatkan trip ke eropa karena prestasinya itu) tiba-tiba kena assesment, lalu timnya dibubarkan dan dimutasi ke bagian-bagian lain, cuma dia yang seorang kepala bagian, lalu dia diberikan waktu 3 hari untuk segera apply dan interview di posisi-posisi lain yang masih kosong diperusahaan, jika dalam waktu 3 hari tidak mendapatkan maka dipersilahkan out.
Dan seperti bisa diprediksi, kantor gw yang sibuk ini, mau ngundang meeting ngebahas kerjaan saja ga bisa 1-2hari maen set meeting karena masing-masing bagian lain pada sibuk, gw buat nyari pengganti anak buah gw yang resign aja bisa dapet dalam waktu 2bln aja udah prestasi, ini cuma dikasih waktu 3hari. Akhirnya ga dapet dong, yaud sisanya 1on1 dengan HRD lalu ya dikasih paket pesangon dsb. Temen gw ini udah 12thn kerja disini, dan njirr.. kok kayak diperlakukan kayak abis korupsi sekian milyar duit perusahaan yak? lalu bonus dia yang dapet jalan-jalan ke eropa yang harusnya bulan oktober/november ini berangkat, dihanguskan. Tidak bisa diambil ataupun diuangkan.
Ini mengubah rule of the game diatas, nurani dan logika gw protes keras walau bukan gw yang kena PHK tetapi gw ngerasa ini ga fair, siapapun yang diberikan perlakuan seperti ini pasti ga ada yang siap. Temen gw ini bahkan saat gw aja ngobrol, dia kayak masih badan dimana, pikiran dimana, dia bilang dia masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Dia pun sempat bertanya, apa kesalahannya? ya tidak ada jawaban yang didapatkan. Mungkin kesalahannya adalah karena dia bekerja disini.
Lalu paska kejadian itu gw mulai sulit untuk tidur nyenyak, mata gw jadi terbuka, selain lo dah posisi chief keatas (which is mereka contract based, bukan pegawai tetap statusnya), tidak ada karyawan lelaki yang berusia 50an, bahkan gw sempet cek fakta sama senior-senior yang sudah belasan tahun disini. Ada tidak yang pensiun sesuai masanya alias umur 55thn? Ada, tetapi itu cuma beberapa dan mereka memang memegang skill yang tidak mudah digantikan, seperti pajak, legal dan semuanya tidak ada yang pria. WTF!
Ternyata cita-cita gw yang mau pensiun umur 55thn di kantor ini pun susah, tidak ada yang bisa menjamin, selama lo bekerja dengan baik, maka lo boleh pensiun disini umur 55, so far belum ada yang bisa. Makin sulit tidur kan gw!
Terus 10thn lagi, pas gw udah diatas 45thn, gw bisa aja sewaktu-waktu diPHK buat diganti sama si anak-anak Gen Z, si generasi stroberi yang kerja ogah-ogahan ini??????
Sori dori stroberi. I cannot let that shit happened. (Bersambung).